Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemeriksaan Kehamilan
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemeriksaan Kehamilan
Di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang Mongondow
Resia
Paputungan, Sesca D. Solang, Henry Imbar
Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado
ABSTRAK
Latar Belakang : Peningkatan pelayanan kesehatan
antenatal dipengaruhi oleh pemanfaatan pengguna pelayanan antenatal. Tidak dimanfaatkannya sarana
pelayanan antenatal dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti : tingkat
pendidikan ibu yang rendah,
ketidakmampuan dalam hal biaya, lokasi pelayanan yang jaraknya terlalu jauh
atau petugas kesehatan tidak pernah datang secara berkala.Di samping faktor ibu
hamil sendiri untuk memeriksakan kehamilanya maka,faktor biaya, petugas
pelayanan kesehatan, sarana dan fasilitas kesehatan yang tersedia merupakan
faktor yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan cakupan ibu hamil.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan
dengan pemeriksaan kehamilan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah kunjungan K4 untuk tahun 2012 masih kurang yaitu 68,1
%.
Metode : Jenis penelitian deskriptik
analitik
dengan pendekatan Cross Sectional Study dan
dianalisa menggunakan SPSS uji korelasi spearmen
rank rho. Populasi
penelitian adalah 76
ibu hamil, Jumlah sampel
adalah 76
ibu hamil di wilayah Puskesmas Tanoyan,Kabupaten Bolaang
Mongondow.
Hasil penelitian : didapatkan dengan usia terbanyak <
20dan>35 tahun 56 responden,
pendidikan terbanyak adalah pendidikan dasar 35 responden dan menurut
pekerjaan 51
responden terbanyak tidak
bekerja. Untuk jarak
terbanyak ≤ 3 km yaitu 56 responden, pendapatan Rp.≥1.550.00
46
keluarga. Usia ibu hamil, pendidikan, pendapatan keluarga dan Jarak
kefasilitas kesehatan di
hubungkan dengan pemeriksaan kehamilan
dianalisis dengan menggunakan uji spierman rho dan hasil yang diperoleh untuk usia
nilai p= 0,000 < 0,05 atau r hitung = 0,672, pendidikan nilai p = 0,000 <
0,05 atau r hitung = 0,874, pendapatan nilai
= 0,000 < 0,05 atau r hitung 0,652, jarak nilai p = 0,000 < 0,05 atau r hitung 0,740.
Kesimpulan : terdapat hubungan yang
bermakna kearah positif
antara usia ibu hamil, pendidikan, pendapatan dan jarak dengan
pemeriksaan kehamilan
di Puskesmas Tanoyan
Kabupaten Bolaang Mongondow, Perlu adanya penyuluhan dari tenaga kesehatan tentang
pentingnya pemeriksaan kehamilan sesuai standar yaitu 1
kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III
sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan K4
Kata Kunci : Usia Ibu Hamil, Pendidikan, Pendapatan, Jarak, Pemeriksaan Kehamilan
PENDAHULUAN
Angka kematian ibu (AKI) dan angka
kematian bayi (AKB) bukan saja merupakan indikator kesehatan ibu dan anak,
namun dapat menggambarkan tingkat akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan, efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan program kesehatan. Pada
saat ini AKI di Indonesia 228/100.000 KH
tertinggi di negara Asean
seperti Thailand yang hanya
44/100.000 KH,Malaysia 39/100.000 KH,dan singapura 6/100.000.KH Angka kematian
ibu di Indonesia tahun 2011 masih sebesar 228/100.000 kelahiran hidup.
Masa kehamilan
merupakan masa yang rawan kesehatan, baik kesehatan ibu yang mengandung maupun
janin yang dikandungnya sehingga pada masa kehamilan perlu dilakukan
pemeriksaan secara teratur. Hal ini dilakukan guna
menghindari gangguan sedini mungkin dari segala sesuatu yang membahayakan
terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Data dari Profil
Din-Kes Sulut 2010 menunjukkan cakupan
Kunjungan pertama (K1) dan Kunjungan keempat (K4), Cakupan K1 atau juga disebut akses
pelayanan ibu hamil merupakan gambaran
besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama kefasilitas pelayanan
kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sedangkan
cakupan K4 ibu hamil adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan
ibu hamil sesuai dengan standar pelayanan.
Setiap ibu hamil
dianjurkan untuk mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia
merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal, karena pelayanan antenatal
merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal
dan mendeteksi dini kehamilan abnormal. (1)
Pengawasan Antenatal Care (ANC) atau yang sering
disebut pemeriksaan kehamilan adalah pelayanan antenatal yang diberikan oleh
tenaga ahli profesional yaitu dokter spesialis kebidanan, dokter umum, dokter bukan spesialis yang mempunyai
banyak pengalaman dalam kebidanan, bidan,
public health care (PHC) pemanfaatan
jenis pelayanan ANC diharapkan dapat menghasilkan atau memperbaiki status
kesehatan ibu hamil. Dalam hal ini
pemanfaatan pelayanan ANC yang tepat akan meningkatkan derajat kesehatan ibu
dan janin yang akan di lahirkannya sehingga menuju ke keluarga yang sehat dan
sejahtera. (1)
Peningkatan pelayanan
kesehatan antenatal dipengaruhi oleh pemanfaatan pengguna pelayanan antenatal. Dengan tidak dimanfaatkannya sarana pelayanan
antenatal dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti:tingkat pendidikan ibu yang rendah,
ketidakmampuan dalam hal biaya, lokasi pelayanan yang jaraknya terlalu jauh
atau petugas kesehatan tidak pernah datang secara berkala. Dengan
demikian untuk meningkatkan hasil cakupan ibu hamil ada beberapa faktor yang perlu
mendapatkan perhatian. Di samping faktor ibu
hamil sendiri untuk memeriksakan
kehamilanya maka, faktor biaya, petugas pelayanan kesehatan, sarana dan
fasilitas kesehatan yang tersedia merupakan faktor yang dapat berpengaruh
terhadap keberhasilan cakupan ibu hamil. (1)
Salah satu upaya
Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah negara
membuat rencana strategi nasional Making
Pregnancy Safer (MPS) maka visi MPS
adalah “Kehamilan dan persalinan di Indonesia aman serta bayi yang dilahirkan
hidup sehat”. (2)
Bidan merupakan salah satu tenaga
kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam penurunan AKI dan AKB. Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan
dan paripurna berfokus pada aspek pencegahan, promosi dengan berlandaskan
kemitraan dan pemberdayaan, masyarakat bersama-sama dengan tenaga kesehatan
lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang membutuhkannya. (3)
Berdasarkan
konsep - konsep yang telah di jelaskan di atas maka di buatlah kerangka konsep
sebagai berikut :
Sesuai data yang
diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara tahun 2011 yaitu capaian K1 99,% dan
K4
87,5% secara nasional
cakupan K1 dan K4 sulawesi utara sudah lebih tinggi dari cakupan nasional yaitu
K1 92,7% dan K4 61,4 %.
Berdasarkan data yang diperoleh di
Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow cakupan
kunjungan pemeriksaan ibu hamil tahun 2011
untuk K1 adalah 106,5 % dan K4 adalah 77,1% ,cakupan K1 sudah lebih tinggi dari cakupan Propinsi, namun K4 masih jauh
dari target K4 Kabupaten Bolaang Mongondow yaitu 95%. data dari PWS KIA Puskesmas Tanoyan 2013,
menunjukkan pada tahun 2012 di Puskesmas Tanoyan dengan sasaran ibu hamil berjumlah 215, dimana cakupan K1 98,7% dan K4
adalah 68,1 %. Pada bulan januari-maret 2013 ibu hamil berjumlah 138
orang, trimester I : 32, Trimester II : 30 orang, Trimester III : 76 orang.
Berdasarkan wawancara awal pada 10 orang
ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Tanoyan, di dapatkan 6 orang
yang belum memeriksakan kehamilan secara
teratur,
hal tersebut mendorong penulis untuk meneliti faktor – faktor apa saja yang berhubungan dengan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Tanoyan kabupaten Bolaang Mongondow. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk
mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Tanoyan
Kecamatan Bolaang Mongondow.
METODE
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional. Variabel
bebas (independent) adalah usia ibu hamil, pendidikan,
pendapatan, dan
jarak, variabel
terikat (dependent) adalah
Pemeriksaan kehamilan. Instrumen
yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah Chek list dan penelitian ini dilaksanakan di Wilayah kerja Puskesmas Tanoyan Kabupaten
Bolaang Mongondow. Populasi
dalam penelitian ini yaitu seluruh ibu hamil Trimester III yang ada di Wilayah kerja Puskesmas
Tanoyan Kabupaten Bolaang Mongondow berjumlah 76 orang ibu hamil dijadikan sample penelitian. Data di analisis dengan
bantuan perangkat lunak statistik komputer SPSS dengan menggunakan uji korelasi Spearman
rank (rho).
HASIL
1.
Gambaran Umum Responden
Usia responden menunjukkan bahwa umur responden terbanyak
pada golongan usia < 20 dan > 35 tahun sebanyak 56 orang (73,68%).
Sedangkan yang terendah pada golongan usia 20-35 tahun 20 responden (26,32%). tingkat pendidkan responden terbanyak adalah pendidikan
dasar dengan jumlah 41 reponden (46,05%),sementara tingkat pendidikan SMA dan
PT berjumlah 35 responden atau ( 53,95), menurut Pekerjaan menunjukkan sebagian
besar responden tidak bekerja dengan jumlah 51 responden (67,1%). Sisanya tidak
bekerja, Menurut Paritas menunjukkan paritas responden sebagian besar adalah
multigravida yaitu 39 responden (51,3%). Diikuti primi gravida 22 (28,9) dan
grandemulti (15 (19,7), pendapatan keluarga sebagian besar melebihi UMR
Propinsi Sulawesi Utara yaitu > Rp 1.550.000,-, jarak dari rumah responden ke fasilitas
kesehatan yang terdekat atau < 3 Km
sebanyak 56 responden (73,7%), sebagian besar responden memeriksakan kehamilan
kurang dari 4 kali yaitu 46 responden (60,5%).
2.
Bivariat
Hubungan variabel independent dengan variabel dependen
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Hubungan Usia, Tingkat Pendidikan,
Pendapatan dan Jarak dengan Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Tanoyan
Kunjungan
|
r
|
p
|
||||
>
4 kali
|
%
|
<
4 kali
|
%
|
|||
Usia :
< 20->35 Thn
20-35 Thn
|
15
15
|
13,2
19,7
|
41
5
|
53,9
6,6
|
6,72
|
0,0001
|
Pendidikan :
SD,SMP
SMA, PT
|
10
20
|
13,2
26,3
|
25
21
|
32,8
27,6
|
0,874
|
0,0001
|
Pendapatan :
> 1.550.000
< 1.550.000
|
18
12
|
23,6
15,7
|
28
18
|
36,8
23,6
|
0,652
|
0,0001
|
Jarak :
> 3 KM
< 3 KM
|
5
25
|
6,6
32,8
|
15
31
|
19,7
40,7
|
0,740
|
0,0001
|
Tabel di atas menunjukan hasil
analisis dengan menggunakan uji korelasi antara usia dengan kunjungan di dapatkan nilai p = 0,000 (α 5% < 0,05) atau
korelasi 672 berarti terdapat
hubungan yang bermakna kearah positif
antara usia ibu hamil dengan pemeriksaan kehamilan, pendidikan dengan kunjungan
di dapatkan nilai p= 0,000 (α 5% < 0,05) atau korelasi = 0,874
artinya terdapat hubungan yang bermakna kearah positif antara tingkat pendidikan
dengan pemeriksaan kehamilan, pendapatan dengan kunjungan didapatkan p = 0,000
(α 5% < 0,05) atau korelasi = 0,652, artinya terdapat hubungan yang
bermakna kearah positif antara pendapatan dengan pemeriksaan kehamilan,
jarak dengan kunjungan di
dapatkan
nilai p = 0,000 (α 5% < 0,05) atau korelasi = 0,740, artinya terdapat
hubungan yang bermakna kearah positif antara jarak dengan pemeriksaan
kehamilan.
PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian di dapatkan pada
distribusi responden menurut
usia
terbanyak adalah usia
< 20 dan >35 tahun berjumlah 56 responden (73,68 %), yang merupakan usia rawan untuk hamil dan melahirkan, dimana
pada usia < 20
tahun belum siap baik dari segi fisik dan mental untuk hamil,meahirkan dan. Sedangkan usia > 35 tahun adalah usia yang
berisiko untuk hamil karena dari segi fisik kekuatan seseorang, Semakin menurun. Seseorang yang cukup umur atau dewasa tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja,
dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang dewasa lebih di percaya dari orang yang belum
tinggi kedewasaannya. (1)
Berdasarkan
penelitian ini di dapatkan tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah pendidikan dasar berjumlah 41 responden (53,95%). Menurut teori, seseorang
yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menerima ide baru atau mencerna
informasi - informasi dan lebih mudah mengerti serta memahami apa yang di
sampaikan di bandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah.(4)
Dengan demikian dapat di katakan bahwa semakin tinggi pendidikan masyarakat,
semakin tinggi pula pengetahuan sehingga kebutuhan akan pentingnya pelayanan
kesehatan semakin tinggi pula.
Sebagian besar
responden tidak bekerja atau ibu rumah tangga dengan
jumlah 51
responden (67,1
%), sehingga peneliti berpendapat bahwa responden yang tidak bekerja mempunyai
kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan informasi - infomasi kesehatan dan
melakukan pemeriksaan kehamilan., ada
beberapa aspek yang mempengaruhi status kesehatan dan orang berprilaku sehat
antara lain adalah pekerjaan. (4) Sebagian besar
responden multigravida sebanyak 39 responden (51,3%), menurut peneliti hal ini memudahkan responden
dalam pemeriksaan kehamilan karena sudah berpengalaman dalam kehamilan dan
persalinan. Paritas 2-3 merupakan
paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan
paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai resiko kematian maternal lebih tinggi. (1)
Pendapatan keluarga sebagaian
besar > 1.550.000, artinya melebihi UMR Propinsi, karena kebanyakan suami
responden berprofesi sebagai penambang dan wilayah puskesmas Tanoyan merupakan
daerah tambang emas sehingga responden dapat membiayai pemeriksaan kehamilan
dan juga di tunjang dengan adanya bantuan pemerintah berupa Jaminan kesehatan
daerah, Jaminan kesehatan masyarakat dan
Jaminan persalinan, orang berperilaku sehat dipengaruhi pula oleh tingkat
sosial ekonomi (4)
Menurut penelitian ini
di dapatkan pada gambar 8
jarak dari rumah responden ke fasilitas kesehatan yang <
3 Km
berjumlah 56
responden (73,7
%), hal ini menunjukkan jarak antara
tempat tinggal responden dan tempat pelayanan kesehatan tidak jauh dan dapat
dijangkau dengan
transportasi roda dua maupun roda empat, walaupun terdapat wilayah yang cukup jauh dari
Puskesmas tetapi petugas rutin mengadakan kegiatan posyandu didesa tersebut.
Selanjutnya dari 76 responden
sebagian besar memeriksakan kehamilan < 4 kali sebanyak 46 responden
(60,5%), hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor yang akan diteliti oleh peneliti. Menurut hail penelitian sbelumnya menyatakan
ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan kehamilan antara lain
umur ibu, pendidikan ibu, pengetahuan, paritas, pekerjaan, pendapatan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan. (5)
Berdasarkan hasil uji statistik pada menunjukkan hubungan umur ibu hamil dengan pemeriksaan kehamilan (K4) di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang Mongondow,pada usia < 20 th dan > 35 th kunjungan > dari 4 kali hanya 15
responden sementara 41 responden
melakukan pemeriksaan kurang dari 4 kali, pada usia 20 – 35 tahun responden
yang melakukan pemeriksaan kehamilan > 4 kali berjumlah 15 responden dan
hanya 5 responden yang melakukan pemeriksaan kurang dari 4 kali. pada hasil pengujian statistik adalah p= 0,000 (α < 0,05%)
atau korelasi = 0,672 , dengan demikian menunjukkan
terdapat hubungan yang bermakna
kearah positif antara usia ibu hamil dengan pemeriksaan kehamilan (K4) di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan
oleh Suriati (2011) di Puskesmas Mopuya dengan hasil analisis tidak menunjukkan
adanya hubungan antara usia ibu hamil dengan antenatal care. (6)
Tingkat pendidikan SD,SMP yang melakukan pemeriksaan
kehamilan > 4 kali hanya 10 responden,dan 25 responden melakukan pemeriksaan
kehamilan < 4 kali ,sementara pendidikan SMP,PT 20 responden melakukan
pemeriksaan kehamilan > 4 kali dan 20 responden < 4 kali. pada uji
analisis antara tingkat pendidikan dengan pemeriksaan kehamilan adalah p =
0,000 (α < 0,05%) atau korelasi = 0,874, artinya terdapat hubungan yang
bermakna kearah positif antara tingkat pendidikan dengan pemeriksaan kehamilan
di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini sama dengan penelitian yang
dilakukan oleh Kadek Mira, dengan judul hubungan antara karakteristik sosial
ekonomi dan dukungan suami dengan kelengkapan antenatal care pada ibu hamil di
wilayah kerja puskesmas III
Denpasar Selatan mengatakan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan dengan
kelengkapan antenatal care. (7)
Responden yang memiliki penghasilan > 1.550.000 18 responden melakukan
pemeriksaan kehamilan > dari 4 kali dan 28 responden < 4 kali, sementara
pendapatan < 1.550.000, 12 responden melakukan pemeriksaan kehamilan > 4
kali, dan 18 responden yang melakukan pemeriksaan < 4 kali. pada uji
analisis antara pendapatan dengan pemeriksaan kehamilan menunjukkan hasil p =
0,000 (α < 0,05%) atau korelasi = 0,652, sehingga terdapat hubungan yang
bermakna kearah positif antara pendapatan dan pemeriksaan kehamilan. Penelitian
ini sama dengan penelitian yang dilakukan Haryanti (2003) di Puskesmas
Baturetno II Kabupaten Wonogiri menunjukkan terdapat hubungan antara pendidikan
ibu dengan pemeriksaan kehamilan,
jarak > 3 Km, 5 responden
melakukan pemeriksaan kehamilan > 4 kali, 15 responden meakukan pemeriksaan
kehamilan < 4 kali. Sementara jarak
< 3 Km 25 responden melakukan pemeriksaan kehamilan > 4
kali dan 31 responden melakukan pemeriksaan kehamilan < 4 kali. Uji analisis menunjukkan nilai p = 0,000 ( α < 0,05%)
atau korelasi = 0,740, artinya terdapat hubungan yang bermakna kearah positif
antara jarak dengan pemeriksaan kehamilan. (8) Penelitian ini
tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukan bahwa tidak
ada pengaruh faktor paritas pengetahuan, jarak dengan pemanfaatan antenatal
care.(9)
Hasil penelitian ini sama dengan hasil
penelitian sebelumnya yang mengatakan ada hubungan antara pendidikan, umur,
paritas, jarak tempat pelayanan dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan. (10)
Berdasarkan penelitian ini didapatkan faktor pendidikan paling besar pengaruhnya
pada kunjungan pemeriksaan kehamilan.
Dimana pada tingkat pendidikan SD,SMP dari 35 responden hanya 10
responden yang melakukan pemeriksaan kehamilan > 4 kali. Sementara tingkat
pendidikan SMA, PT dari 41 responden 20 orang melakukan pemeriksaan kehamilan
lebih dari 4 kali dan 21 lainya melakukan pemeriksaan kurang dari 4 kali. Uji statistik menunjukan nilai p = 0,000 (α < 0,05%) atau korelasi
= 874. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan di beberapa tempat yang menyatakan
ada hubungan anatara pendidikan ibu dengan pemeriksaan kehamilan (11)
KESIMPULAN
1.
Terdapat hubungan yang bermakna kearah positif antara usia ibu hamil dengan pemeriksaan
kehamilan di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang Mongondow.
2.
Terdapat hubungan yang bermakna kearah positif antara
pendidikan dengan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang
Mongondow.
3.
Terdapat hubungan yang bermakna kearah positif antara
pendapatan dengan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang
Mongondow.
4.
Terdapat hubungan yang bermakna kearah positif antara
jarak dengan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Tanoyan Kabupaten Bolaang
Mongondow.
SARAN
1.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipergunakan
sebagai acuan dalam penelitian selanjutnya.
2.
Bagi Puskesmas dan tenaga kesehatan untuk lebih banyak
memberikan penyuluhan tentang risiko hamil usia < 20 tahun dan > dari 35
tahun, memberikan penyuluhan tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan sesuai
dengan standar 1 kali pada trimester I,1 kali pada trimester II,dan 2 kali pada
trimester III , sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khusus K4.
3.
Diharapkan kepada ibu hamil dapat menambah pengetahuan
yang berhubungan dengan pemeriksaan kehamilan, sehingga ibu – ibu dapat
memanfaatkan fasilitas kesehatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan,serta
dapat memanfaatkan buku kesehatan ibu dan anak (buku KIA) dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Prawiroharjo S. Buku Acuan Nasional Kesehatan
Mathernal dan Neonatal. Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo;
2006.
2. Saifuddin
A.B. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta.
Jakarta: JNPKKR-POGI; 2006.
3. Kemenkes.
Pedoman Pelayanan Antenatal terpadu. Yogyakarta: Kementerian Kesehatan Dirjen
Bina Kesehatan, Direktorat Bina kesehatan Ibu; 2011.
4. Notoatmodjo
S. Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.
5. Vitriyani
E, Kirwono B, Firnawati AF. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemeriksaan
Antenatal Care (ANC) K1 Ibu Hamil di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukohar.
Jurnal Kesehatan. 2012;Vol. 5, No. 2:149 - 56.
6. Suriati
P. Hubungan Usia Ibu Dengan Antenatal Care Di Puskesmas Mopuya Kabupaten
Bolaang Mongondow [Skripsi]. Manado: Jurusan Kebidanan, Poltekkes Manado; 2011.
7. Dewi
KMK. Hubungan Antara Karakteristik Sosial Ekonomi Dan Dukungan Suami Dengan
Kelengkapan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas III
Denpasar Selatan Tahun 2013 [Tesis]. Denpasar: Pascasarjana UDAYANA; 2013.
8. Haryanti
S. Hubungan Pendidikan Ibu, Status Bekerja Ibu dan Pendapatan Rata-Rata
Keluarga dengan Pemeriksaan Kehamilan (K4) di Wilayah Kerja Puskesmas Baturetno
II Kabupaten Wonogiri tahun 2002 [Skripsi]: Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro Semarang; 2003.
9. Wulandari
SE. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemeriksaan Antenatal Care Kunjungan
Pertama (K1) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan [Skripsi]. Jakarta: Program Studi Ilmu Keperawatan FK dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; 2016.
10. Lihu
FA, Umboh JML, Kandou GD. Analisis Hubungan Antara Faktor Internal dan Faktor
Eksternal Ibu Hamil Dalam Melakukan Tindakan Antenatal Care Di Puskesmas Global
Limboto Kabupaten Gorontalo JIKMU. 2015;Vol. 5, No. 2b:427-35.
11. Syahda
S. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care (Anc) Di Desa
Muara Mahat Wilayah Kerja Puseksmas Tapung I Tahun 2014. Jurnal Kebidanan
2014;Vol 6:14-27.
sumber :
Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731 Volume 4 Nomor 2. Juli – Desember 2016
Komentar
Posting Komentar